Saya Muhammad
Faizal Deo Ferdinar, terinspirasi kepada salah satu tokoh kemerdekaan dan juga
seorang tokoh pejuang Islam di Indonesia, Bung Tomo. Saya terinspirasi kepada
bung Tomo karna beberapa Hal, mungki tulisan dibawah ini bisa menyampaikan
beberapa alasan saya yang membua Bung Tomo menjadi inspirasi saya.
“Saya peringatkan sekali lagi,
jangan mulai menembak,
baru kalau ditembak, maka kita
akan ganti menyerang mereka itu,
kita tunjukkan bahwa kita
adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
dan untuk kita,
saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.”
“Semboyan kita tetap : MERDEKA
atau MATI”
Bung Tomo adalah pahlawan yang
terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan
kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan
pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari
Pahlawan. Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya
bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia
pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah
perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai
kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian
darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di
Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah
seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah
pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi
distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.
Nilai terindah dari pejuang
yang lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920, ini adalah ketulusan, kekonsistenan,
dan kesederhanaannya. Bung Tomo adalah pejuang bangsa yang konsisten memegang
teguh kesucian dalam perkataan atau pun perbuatan. Kekonsistenan dan ketulusan
inilah yang membuat pekik takbir, Allahu Akbar, yang mengiringi tiap orasinya
menjadi kekuatan sangat besar dan tak tertandingi. Nah, karakter dan cara Bung
Tomo berjuang inilah yang perlu kita garis bawahi. Sadar atau tidak, mikrofon
adalah medianya! Artinya, beliau berjuang dengan keahliannya, yaitu sebagai
jurnalis yang mampu mengobarkan semangat perjuangan melalui kata-katanya.
Bagaimana kata-kata kita mampu menggerakkan massa untuk berbuat kebaikan,
itulah yang mestinya menjadi tanggung jawab jurnalis, bukan membuat gossip atau
memperumit masalah. Ini adalah tanggung jawab moral seorang jurnalis. Dan bila
kita bukan jurnalis, maka pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa apapun
profesi kita, keahlian kita bisa dimanfaatkan untuk membantu sesama, untuk
menegakkan kebenaran.
Masa muda
Sutomo dibesarkan di rumah yang
sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh
semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun,
ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan
berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda
dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat
korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.
Sutomo kemudian bergabung
dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa
filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari
kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan
formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi
orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum
pendudukan Jepang
Seruan Allahu Akbar Bung Tomo, Bakar Semangat Arek Suroboyo
Para
pemuda setelah proklamasi banyak yang berdatangan Gedong Joeang 45 di Menteng
Raya 31, Jakarta Pusat menyatakan siap diberangkatkan ke Sumatra, Kalimantan,
Sulawesi dan berbagai daerah lainnya. Mereka membawa stensilan proklamasi
kemerdekaan.
Maklum
ketika proklamasi 17 Agustus 1945, akibat hubungan komunikasi yang masih sangat
sederhana belum banyak diketahui di daerah-daerah. Berkata jasa para pemuda
ini, akhirnya Indonesia telah merdeka hanya dalam selang waktu dekat telah
diketahui di seluruh Tanah Air.
Seperti
juga di Jakarta, di daerah-daerah terjadi perlawanan bersenjata dengan
menggunakan bambu runcing. Di Surabaya, para arek Suroboyo yang dipacu oleh
seruan ‘Allahu Akbar’ Bung Tomo, dalam pertempuran mati-matian berhasil
membunuh panglima Inggris, Jenderal Mallaby.
Patuh terhadap Agama
Sutomo sangat
bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya
sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7
Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan
ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang
meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah
air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat
Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.
Wassallamualaikum Wr. Wb
Muhammad Faizal Deo Ferdinar
