Sabtu, 12 Agustus 2017

SUTOMO (Bung Tomo)

Assallamualaikum wr. wb

Saya Muhammad Faizal Deo Ferdinar, terinspirasi kepada salah satu tokoh kemerdekaan dan juga seorang tokoh pejuang Islam di Indonesia, Bung Tomo. Saya terinspirasi kepada bung Tomo karna beberapa Hal, mungki tulisan dibawah ini bisa menyampaikan beberapa alasan saya yang membua Bung Tomo menjadi inspirasi saya.

“Saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak,
baru kalau ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu,
kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
dan untuk kita, saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.”
“Semboyan kita tetap : MERDEKA atau MATI”

Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.  Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Nilai terindah dari pejuang yang lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920, ini adalah ketulusan, kekonsistenan, dan kesederhanaannya. Bung Tomo adalah pejuang bangsa yang konsisten memegang teguh kesucian dalam perkataan atau pun perbuatan. Kekonsistenan dan ketulusan inilah yang membuat pekik takbir, Allahu Akbar, yang mengiringi tiap orasinya menjadi kekuatan sangat besar dan tak tertandingi. Nah, karakter dan cara Bung Tomo berjuang inilah yang perlu kita garis bawahi. Sadar atau tidak, mikrofon adalah medianya! Artinya, beliau berjuang dengan keahliannya, yaitu sebagai jurnalis yang mampu mengobarkan semangat perjuangan melalui kata-katanya. Bagaimana kata-kata kita mampu menggerakkan massa untuk berbuat kebaikan, itulah yang mestinya menjadi tanggung jawab jurnalis, bukan membuat gossip atau memperumit masalah. Ini adalah tanggung jawab moral seorang jurnalis. Dan bila kita bukan jurnalis, maka pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa apapun profesi kita, keahlian kita bisa dimanfaatkan untuk membantu sesama, untuk menegakkan kebenaran.

Masa muda
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.
Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang

Seruan Allahu Akbar Bung Tomo, Bakar Semangat Arek Suroboyo

Para pemuda setelah proklamasi banyak yang berdatangan Gedong Joeang 45 di Menteng Raya 31, Jakarta Pusat menyatakan siap diberangkatkan ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan berbagai daerah lainnya. Mereka membawa stensilan proklamasi kemerdekaan.
Maklum ketika proklamasi 17 Agustus 1945, akibat hubungan komunikasi yang masih sangat sederhana belum banyak diketahui di daerah-daerah. Berkata jasa para pemuda ini, akhirnya Indonesia telah merdeka hanya dalam selang waktu dekat telah diketahui di seluruh Tanah Air.
Seperti juga di Jakarta, di daerah-daerah terjadi perlawanan bersenjata dengan menggunakan bambu runcing. Di Surabaya, para arek Suroboyo yang dipacu oleh seruan ‘Allahu Akbar’ Bung Tomo, dalam pertempuran mati-matian berhasil membunuh panglima Inggris, Jenderal Mallaby.

Patuh terhadap Agama
Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.
 yak itulah beberapa penggalan cerita dari Bung Tomo yg membuat saya terinsprasi, tidak lelah dalam peperangan dan selalu semangat dalam memimpin pasukan dan tentunya tidak pernah melupakan Allah, karna tanpa bantuan Allah perjuangan kita akan sia sia. Jika ada salah kata dan tulisan mohon di maafkan.
Wassallamualaikum Wr. Wb
Muhammad Faizal Deo Ferdinar